SAPAAN GEMBIRA, KESADARAN, DAN KESENIAN
Langkah Konkret Pendidikan Berdasarkan Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Kelompok atas dan
kelompok bawah adalah pembagian kelompok anak berdasarkan nilai hasil tes
tertulis. Berdasarkan pengelompokan ini terbetuk asumsi bahwa ruang kelas
berisi anak pintar dan anak tidak pintar. Anak-anak yang pintar memiliki nilai
yang melampaui kriteria ketuntasan minimal, sedangkan anak yang nilainya di
bawah kriteria akan dicap sebagai anak tidak pintar. Pandangan adanya anak yang
pintar dan anak yang tidak pintar menjadikan pendidik fokus kepada kemajuan
pemahaman anak yang pintar dan berputus asa terhadap anak yang tidak pintar. Kelompok anak tidak pintar cendrung kurang
mendapat perhatian saat pembelajaran berlangsung di kelas.
Pengelompokan anak pintar dan tidak pintar melahirkan
persepsi dimasa yang akan datang anak pintar akan memperoleh kehidupan yang lebih
sejahtera dibanding anak yang tidak pintar. Kenyataan yang ada membuktikan
bahwa orang yang berhasil dan sejahtera bisa juga berasal dari kelompok anak
yang tidak pintar. Hal ini membuktikan bahwa setiap anak memiliki kemampuan
sesuai dengan minat dan bakatnya. Anak-anak yang tidak mahir di bidang akademik
bisa jadi memiliki kemampuan luar biasa dibidang lain. Pemahaman bahwa sejak
lahir setiap anak memiliki minat dan bakat tersendiri sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang
menyatakan bahwa pendidik hanya berperan menuntun kodrat yang sudah ada pada
anak. Anak tidak terlahir sebagai kertas putih yang bisa ditulis sesuai
keingingan pendidik. Anak diibaratkan kertas yang sudah terisi penuh oleh
tulisan yang masih samar-samar. Pendidik berperan menebalkan tulisan yang baik
dan berupaya menyamarkan atau menghapus tulisan yang tidak baik. (Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional: Ki Hadjar Dewantara)
Menuntun kodrat anak
perlu memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman, yaitu dilaksanakan sesuai dengan kondisi lingkungan
dan kondisi zaman dimana anak tumbuh. Budi pekerti yang terbentuk dipengaruhi
oleh pendidikan. Budi perkerti meliputi jiwa, rasa, karsa, dan tenaga. Pendidikan
budi pekerti perlu dikembangkan secara menyeluruh dan harmonis sesuai karena pendidikan
yang holistik dan harmonis akan membentuk manusia yang bijaksana.
Kesadaran akan peran menuntun, melahirkan
gagasan baru dalam mendidik. Gagasan yang lahir sebagai wujud perubahan cara
pandang terhadap kodrat anak. Perlu ada perubahan dalam sikap maupun tindakan
dalam mendidik anak. Beberapa gagasan yang dapat dilaksanakan secara konkret
diantaranya mendidik dalam suasana gembira, membangun kesadaran individu anak,
dan membangun harmonisasi budi pekerti anak.
Selain suasana yang gembira, anak juga perlu terlibat dalam membuat keputusan. Usia 7 sampai 14 tahun merupakan tahap ke dua dari perkembangan anak. Pada fase ini pendidikan dilaksanakan dengan cara pengajaran dan perintah. Pengajaran dan perintah hendaknya tetap berpihak kepada anak. Dibandingkan dengan kekerasan dan hukuman, akan lebih menyenangkan jika kita membangun kesepakatan dengan anak. Kesepakatan yang dibangun dari kesadaran individu lebih terasa menyenangkan untuk dilaksanakan. Sehingga sanksi dari pelanggaran terhadap kesepakatan telah disadari sepenuhnya sebagai konsekuensi kurangnya ketaatan dan kedisiplinan setiap anak.
Gambar: Kesepakatan menjadi petugas pengibar bendera berdasarkan kesadaran individu anak.
Selanjutnya upaya melaksanakan keselarasan
pendidikan budi pekerti dapat dilakukan melalui kesenian. Harmonisasi berbagai
alat musik pengiring lagu dapat membangun jiwa, raga, karsa, dan tenaga dengan
seimbang. Kesenian yang dimaksud disesuaikan dengan budaya di daerah tempat
anak tinggal. Syair yang sarat dengan pesan moral juga menjadi sarana yang baik
dalam menanamkan budi pekerti yang luhur.
Gambar Penampilan Kesenian Bajolo dari SMP Negeri Satu Atap Talang Kerinci
Perubahan cara pandang terhadap pendidikan
melahirkan gagasan baru dalam mendidik. Perubahan konkret dapat dilakukan
melalui sapaan yang gembira, membangun kesepakatan, dan berkesenian. Berbagai
perubahan tersebut diharapkan dapat menuntun anak sesuai dengan kodrat alam dan
kodrat zamannya. Pendidikan yang sesuai dengan kodrat anak membentuk budi
pekerti yang luhur secara harmonis agar anak dapat berkembang menjadi pribadi
yang bijaksana.


Komentar
Posting Komentar