PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
PEMIMPIN
PEMBELAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
PROGRAM
GURU PENGGERAK
MODUL
3.2
Sekolah bisa dikatakan sebagai ekosistem, dimana terjadi hubungan timbal balik yang harmonis diatara seluruh komponennya. Komponen atau factor biotik yang membentuk ekosistem sekolah diantaranaya murid, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, orang tua/ wali murid, masyarakat di sekitar sekolah, dinas terkait, dan pemerintah Daerah. Faktor abiotik yang sangat berperan dalam ekosistem sekolah diantaranya keuangan, sarana dan prasarana, serta lingkungan alam. Seluruh factor atau komponen yang membentuk ekosistem sekolah merupakan sumber kekuatan atau asset yang sangat mendukung pembangaunan dan pengembangan sekolah.
Seorang
pemimpin khususnya pemimpin pembelajaran harus mampu menemukan dan memetakan
kekuatan yang ia miliki untuk mencapai sutu tujuan. Green & Haines (2010)
berpendapat bahwa ketika seorang pemimpin berpikir berbasis kekuarangan, maka
seluruh energi yang dimiliki hanya digunakan untuk mengatasi kekuarangan dan
mencari bantuan. Pemimpin yang berpikir berbasis kekuatan akan memetakan asset yang
ia miliki untuk secara mandiri mencapai tujuan pembangunan dan pengambangan
pembelajaran dan tujuan sekolah. Pendekatan berbasis kekuatan atau asset ini
juga digunakan sebagai dasar Inkuiri Apresiasi (IA). Sesuai dengan pendapat
Cooperrider & Whitney (2005) bahwa Inkuiri Apresiasi merupakan suatu
filosofi, landasan berpikir sebagai upaya kolaboatif untuk menemukan hal
positif dalam diri seseorang, organisasi, dan dunia sekitarnya, baik dimasa
lalu, saat ini, maupun di masa yang akan datang.
Modal
utama dalam buku karangan Green dan Haines (2016) dipetakan menjadi 7,
diantaranaya modal manusia, modal social, modal politik, modal agama dan
budaya, modal fisik, dan modal finansial. Modal manusia dalam ekosistem sekolah
merupakan seluruh factor biotik sekolah. Modal social merupakan norma dan
aturan yang mengikat warga masyarakat dan mengatur pola prilakunya. Modal
politik dalam ekosistem sekolah diartikan sebagai suatu kebijakan yang berpihak
kepada murid untuk mencapai tujuan sekolah. Modal agama dan budaya menjadi
dasar seorang pemimpin dalam menentukan kegiatan sekolah berdasarkan ritual dan
kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah. Modal fisik berupa bangunan dan
infrastruktur yang mendukung seluruh aktivitas sekolah. Modal lingkungan di
sekitar sekolah juga dapat menajdi asset penting yang menunjang kegiatan sekolah.
Modal finansial sekolah diperoleh dari dana rutin dan hasil wirausaha sekolah.
Selanjutnya contoh implementasi pemanfaatan modal atau asset utama sekolah akan
tergambar pada tabel berikut ini:
IMPLEMENTASI SUMBER DAYA
|
Modal Utama |
Implementasi |
||
|
Di Kelas |
Di Sekolah |
Di Masyarakat |
|
|
Manusia |
Memberikan
peran kepada murid sesuai dengan potensinya. |
Memberi
tugas tambahan kepada guru sesuai potensinya. |
Melibatkan
masyarakat dalam kegaiatan sekolah misalnya gotong royong. |
|
Sosial |
Menanamkan
keyakinan kelas agar pembelajaran berjalan kondusif |
Menanamkan
Budaya positif sekolah sebagai keyakinan sekolah |
Masyarakat
sekolah ikut memantau aktivitas murid di luar jam sekolah |
|
Politik |
Merumuskan
kesepakatan kelas yang kemudian menjadi keyakinan kelas |
Kebijakan
yang berpihak kepada murid |
Bekerja
sama dengan pemerintah dan dinas terkait sebagai upaya pembangunan dan
pengembangan sekolah |
|
Agama
dan Budaya |
Aktifitas
pembelajran yang diawali dengan kegiaatan berdoa, bersyukur sesuai dengan
aturan dan budaya setempat. |
Perayaan
hari besar keagamaan di sekolah dan pagelaran seni budaya sekolah. |
Melibatkan
pemuka agama dan tokoh budaya sebagai
narasumber kegaiatan keagamaan dan pelestarian budaya di sekolah. |
|
Fisik |
Pemanfaatan
ruang dan fasilitas kelas, laboratorium, dan perpustakaan. |
Pemanfaatan
seluruh bangunan dan infrastruktur sekolah untuk berbagai kegiatan sekolah. |
Melibatkan
warga sekolah bergotong royong membuat dan memelihara bangunan umum di
masyarakat sebagai bentuk kerjasama sekolah dengan masyarakat |
|
Lingkungan/
alam |
Pembelajaran
bermakna/ kontekstual |
Pemanfaatan
pekarangan sekolah sebagai sumber dan tempat belajar |
Mengajak
murid mengunjungi daerah perkebunan, pertanian atau perikanan di sekitar
sekolah. |
|
Finansial |
Pembelajaran
kewirausahaan yang dapat menambah kas kelas. |
Pemanfaatan
pekarangan sekolah sebagai sumber tambahan pendanaan sekolah |
Berkerjasama
dengan pihak perusahaan yang menyediakan alokasi dana untuk pembangunan
pendidikan. |
Pengelolaan
sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih
berkualitas. Sebagai contoh pemanfaatan modal manusia (murid) di kelas sesuai
dengan potensinya. Murid yang dianggap keras kepala dan egois akan sangat
menjunjung tinggi aturan maka murid tersebut dapat diberi peran sebagai koordinator
kedisilinan atau sebagai ketua kelas. Murid yang suka ribut akan aktif
menjalankan perannya mempelajari dan mengajarkan temannya yang belum paham. Murid
yang pendiam akan sangat berhati-hati sehingga ia kan sangat tekun mengerjakan
tugas. Pada contoh tersebut seorang pemimpin pembelajaran mematakan asset dengan
tepat dengan berpikir berbasis kekuatan.
Contoh
lain pengelolaan sumberdaya lingkungan, social, agama dan budaya sebagai sumber
pembelajaran kontekstual menjadi pembelajaran bermakna. Murid belajar
berdasarkan kejadian yang nyata dan dekat dengan kehiduannya sehari-hari
sehingga lebih mudah dipahami. Selanjutnya pemanfaatan fisik sekolah untuk
menciptakan lingkungan belajar yang kondusif juga mendukung proses pebelajaran
murid menjadi lebih berkualitas.
Pengelolaan
sumberdaya sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara,
peran guru penggerak, visi guru penggerak, budaya positif, diferensiasi
pembelajaran, kopetensi social emosional, dan pengambilan keputusan. Pengelolaan
sumber daya yang tepat akan mendukung tercapainya visi guru penggerak sesuai
dengan perannya dalam menuntun kodrat murid. Membangun budaya positif sekolah, pembelajaran
berdiferensiasi memerlukan sumberdaya yang mampu mendukung pelaksanaannya di
kelas maupun di sekolah. Selanjutnya ketika memetakan dan mengelola sumber daya
seorang pemimpin perlu memiliki kopetensi social emosional yang baik agar dapat
mengambil keputusan yang sesuai dengan nilai-nilai kebajikan.
Sebelum mempelajari modul ‘Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya’ saya belum mengetahui bahwa berpikir berbasis asset dapat meningkatkan motib=vasi dan peluang keberhasilan suatu kegiatan atau tujuan. Selama ini saya cendrung melihat segala sesuatu berdasarkan kelemahan dan kekurangan kemudian berfokus untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kondisi ini akhirnya mencapai titik jenuh ketika merasa bahwa masalah tidak kunjung habis. Setelah mempelajari modul ini saya muai melatih diri untuk berpikir berbasis kekuatan. Pemetaan kekuatan atau sumerdaya yang kita miliki memungkinkan ketercapaian suatu tujuan, Mulai dari tujuan yang sederhana, menngunakan asset yang sudah ada. Setelah terbiasa dengan cara pandang berbasis kekuatan, maka seorang pemimpin akan mencapai tujuan yang bersar dengan modal sumber daya yang sudah dimiliki.
Ditulis oleh Novrina Erika. Calon Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Muaro Jambi
Sumber: Modul 3.2 Program Guru Penggerak Angkatan 5

Komentar
Posting Komentar