PEMBELAJARAN KHUSUS SAINS


PEMBELAJARAN KHUSUS SAINS

Paradigma pembelajaran saat ini adalah perubahan dari model pembelajaran yang diberitahu , guru sebagai sumber utama, tekstual, berbasis Konten, parsial, jawaban Tunggal, verbalisme. Saat ini model pembelajaran menjadi  Mencari tahu, berbasis aneka sumber belajar, pendekatan ilmiah, berbasis kompetensi, holistik/terpadu, kebenaran jawaban multi dimensi, keterampilan aplikatif. Berdasarkan paparan di atas maka pembelajaran khusus sains adalah pembelajaran dengan pendekatan ilmiah.

Hakikat Sains
Kata “sains”biasa diterjemah dengan Ilmu Pengetahuan Alam yang berasal dari ata natural science. Natural artinya alamiah dan berhubungan dengan alam, sedangkan science  artinya ilmu pengetahuan.Secara umum sains memberikan pengertian 1) sejumlah proses atau kegiatan mengumpulkan informasi secara sistematik tentang dunia sekitar, 2) pengetahuan yang diperoleh melalui proses kegiatan tertentu, 3) nilai-nilai dan sikap para ilmuwan menggunakan proses ilmiah dalam memperoleh pengetahuan.

Atas dasar pola pemikiran tersebut, secara garis besar sains memiliki tiga komponen, yaitu

1) proses ilmiah, misalnya mengamati, mengklasifikasi, memprediksi, merancang, dan melaksanakan eksperimen,
2) produk ilmiah, misalnya prinsip, konsep, hukum, dan teori, dan
3) sikapilmiah, misalnya rasa ingin tahu, obyektif, dan jujur.

                                                    Ketarampilan Proses Sains

Basic Skills (keterampilan dasar)
Integrated Skills (keterampilan terintegrasi)

·        Observing (mengamati)
·         Using space relationship (menggunakan
·         hubungan ruang)
·         Using number (menggunakan angka)
·         Classifying (mengelompokkan)
·         Measuring (mengukur)
·         Communicating (mengkomunikasikan)
·         Predicting (meramalkan)
·         Inferring (menyimpulkan)

·         Controlling variable (mengontrol
variable)
·         Interpreting data (menafsirkan data)
·         Fomulating hypothesis (menyusun
·         hipotesis)
·         Defining operationally (menyususn
·         definisi operasional)
·         Experimenting (melakukan percobaan)


             Langkah Pembelajaran dengan Metode Ilmiah

1. Mengamati: SISWA mengamati FENOMENON dengan indera (membaca, mendengar, menyimak, melihat, menonton, dan sebagainya) dengan atau tanpa alat (untuk menemukan gap of knowledge).

 2. Menanya: SISWA merumuskan pertanyaan tentang hal-hal yang tidak diketahui terkait fenomena yang diamati.

 3. Mengumpulkan informasi: SISWA mengumpulkan data/informasi untuk menjawab pertanyaan (dengan eksperimen, membaca sumber lain dan buku teks, mengamati objek/kejadian/aktivitas, wawancara dengan nara sumber dan/atau cara lainnya).

4. Menalar/mengasosiasi: SISWA menggunakan informasi/data yang sudah dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan (dan/atau menarik kesimpulan).

5. Mengomunikasikan: SISWA menyampaikan jawaban atas pertanyaan (kesimpulan) secara lisan dan/atau tertulis.
CATATAN: Sampai langkah 5 (mengomunikasikan) peserta didik akan telah memperoleh pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan/atau metkognitif.

6.      (Dapat dilanjutkan dengan) Mencipta: SISWA menggunakan/menerapkan pengetahuan pengetahuan yang telah diperoleh (untuk mencipta dan/atau menginovasi produk, model, gagasan atau memecahkan masalah).
CIPTAAN:
       merupakan aplikasi dari pengetahuan yang diperoleh
       merupakan sesuatu yang tangible maupun non-tangible

       Model Pembelajaran yang sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah adalah model pembelajaran      PBL, PjBL, dan Discovery/inkuiry Learning.

A.    Tahap Pembelajaran Model Problem Based Learning

Tahap 1 : orientasi terhadap masalah
Tahap 2 : organisasi belajar
Tahap 3 : Penyelidikan individual maupun kelompok
Tahap 4 : pengembangan dan penyajian hasil penyelesaian masalah
Tahap 5 :  Analisis dan evaluasi proses penyelesaian masalah

B.     Langkah Pembelajaran Project-Based Learning
Langkah 1 : penentuan proyek
Langkah 2 : Perancangan langkah-langkah penyelesaian proyek
Langkah 3 : Penyusunan jadwal pelaksanaan proyek
Langkah 4 : Penyelesaian proyek dengan fasilitasi dan monitoring guru
Langkah 5 : Penyusunan laporan dan presentasi/ publikasi hasil proyek
Langkah 6 : evaluasi proses dan hasil proyek

C.     Inquiry/Discovery Learning
Langkah-langkah pembelajaran:
  1. Merumuskan pertanyaan (masalah)
  2. Membuat rancangan pengumpulan data/informasi
  3. Mengumpulkan data/informasi dengan teknik yang sesuai dan menganalisis data/informasi
  4. Merumuskan simpulan (menjawab pertanyaan)
  5. Menerapkan/menggunakan “temuan” dalam kehidupan

Masalah
 1. Apakah pendekatan sains efektif dilakukan di jenjang sekolah dasar?
 2. Apakah ada model pembelajaran yang lain selain PBL, PjBL, dan Discovery/inkuiry dalam pembelajaran sains?
3. Apakah dalam pembelajaran sains harus ada kegiatan praktikum atau eksperimen?




Referensi
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2017. KURIKULUM 2013
(Kompetensi, Materi, Pembelajaran, dan Penilaian).
Pusat Kurikulum dan Perbukuan-Badan Penelitian dan Pengembangan: Jakarta
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikofogi Bekyar, 2003, Rineka Cipta

Fogarty, R. Hou> to lntegrate The Cmricula. IUinois: 1991, IRI/Sky PubMshing Inc.


Pusat KurikuIum, Balitbang Diknas, Panduan Vengembangan Pemhelajaran IRA
Terpadu, 2003,

Rustaman, N.Y, Dirdjosaemarto S., Yudianto, S.A., Ahmad Y., Subekti R., Rochimtaniawati, D., dan Kusumawati,M.N- (2003). Stratsgi BelajarMengajar Biologi. Common Textbook ^idisi Revisi). Bandung: FPMIPA UPI.
https://www.researchgate.net/publication/318040732_PEMBELAJARAN_SAINS_IPA_SEBAGAI_WAHANA_PENDIDIKAN_KARAKTER Conference Paper (PDF Available)  · June 2011with3,280 Reads

Komentar

  1. Baikalah saya akan menanggapi pertanyaan nomor 2.

    Ada model-model lain dalam pembelajaran IPA/SAINS selain yg anda sebutkan diatas seperti :
    -model fragmented
    -model connected
    -model nested
    -model sequenced
    -model shared
    -model webbed
    -model threaded
    -model integrated (terpadu)
    -model immersed, dan
    -model networked.

    Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas tanggapannya
      saya mencoba memahami model yang anda sarankan
      model-model tersebut merupakan model pembelajaran terpadu.
      apakah dalam melaksanakan model tersebut kita perlu berkoordinasi dengan guru mata pelajaran lain?

      Hapus
  2. Assalamu alaikum, sya akan mengomentari point pertama
    pendekatan pendidikan sains (IPA) disekolah dasar (SD) secara tegas berupa mata pelajaran mulai efektif pada jenjang kelas tinggi. Sedangkan di kelas rendah pembelajaran IPA ini terintegrasibersama mata pelajaran lainnya, terutama dalam mata pelajaran Bahasa Indonesiamelalui model pembelajaran tematis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatu
      terimakasi atas komentarnya.
      karena saya kurang memahami pembelajaran tematik, saya ingin bertanya apakah setiap pembelajaran dilakukan secara terpadu, sehingga tidak ada waktu untuk satu matapelajaran dilakukan secara tersendiri?

      Hapus
  3. Saya akan mendiskusikan permasalahan yang ketiga, menurut sama tidak harus selalu menggunanakan eksperimen atau praktikum karena ada beberapa materi yg tidak bisa praktekkan pada jenjang sekolah contoh seperti materi kuantum, fisika modern atau nuklir

    BalasHapus
  4. Terimakasih atas komentarnya
    menurut anda adakah cara yang bisa kita lakukan agar siswa lebih memahami materi atau konsep pembelajaran meskipun tanpa praktikum?

    BalasHapus
  5. pertanyaan no 2 model lainnya adalah MODEL PEMBELAJARAN SCIENCE, ENVIRONMENT, TECHNOLOGY, SOCIETY (SETS), MODEL PEMBELAJARAN IPA TERPADU, MODEL PEMBELAJARAN DIRECT INSTRUCTION (DI)

    BalasHapus
  6. saya akan menanggapi pertanyaan no 3 tentang dalam pembelajaran sains harus ada kegiatan praktikum atau eksperimen yaitu tentulah iya karena disetiap materi misalkan biologi sangatlah dibutuhkan praktikum sebagai pelaksanaan dari teori tersebut.

    BalasHapus
  7. Artikel yang sangat menarik. Saya akan menanggapi pertanyaan no 3.apakah dalam pembelajaran sains harus ada kegiatan praktikum atau eksperimen? Tidak semua materi pelajaran sains harus di praktikumkan. Contoh materi pembelajaran tata surya. Guru yang memilah pelajaran apa saja yang bisa di praktikumkan. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. sependapat dengan saudari rohana ..karena penilaian keterampilan tidak harus dari praktikum.. bisa dengan penilaian proyek .

      Hapus
  8. Menurut saya perlu karena pembelajaran sains itu memerlukan pemahaman dengan cara praktikum

    BalasHapus
  9. Assalamualaikum kk novri.untuk nomor 2 model-model lain dalam pembelajaran IPA/SAINS selain yg anda sebutkan diatas seperti :
    -model fragmented
    -model connected
    -model nested
    -model sequenced
    -model shared
    -model webbed
    -model threaded
    -model integrated (terpadu)
    -model immersed, dan
    -model networked. Terimakasih

    BalasHapus
  10. Sya sependapat dng ka febi dimana tidak semua materi pembelajaran sains hrus ad praktikum, ad materi"tertentu yg tdk bisa dipraktekkan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer