MODEL QUANTUM TECHING AND LEARNING
A.    Pengertian
Quantum merupakan interaksi yang mengubah energy menjadi cahaya. Quantum Teaching adalah pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Interaksi ini mencakup unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
B.     Penerapan Quantum Teaching dan Quantum Learning dalam Pembelajaran
Dalam pelaksanaannya Quantum Teaching melakukan langkah- langkah pengajaran dengan enam  langkah yang tercermin dalam istilah TANDUR , yaitu:
1.      Tumbuhkan minat dengan memuaskan, yakni apakah manfaat yang akan diperoleh dari pelajaran tersebut bagi guru dan muridnya. Tumbuhkan minat dengan memuaskan “ Apakah Manfaatnya Bagiku ( AMBAK )”. AMBAK adalah motivasi yang didapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat- akibat suatu keputusan.
2.      Alami, yakni ciptakan dan datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar. Jangan sampai guru menggunakan istilah yang asing dan sulit untuk dimengerti, karena ini akan membuat siswa merasa bosan dalam belajar.
3.      Namai, untuk ini harus disediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi yang kemudian menjadi sebuah masukan bagi si anak. Setelah siswa melalui pengalaman belajar pada kompetensi dasar tertentu, mereka diajak menulis di kertas, memberikan nama apa saja yang telah mereka peroleh.
4.      Demontrasikan, yakni sediakan kesempatan bagi pelajar untuk menunjukkan bahwa mereka tahu. Setelah siswa mengalami belajar akan sesuatu, beri kesempatan kepada mereka untuk mendemontrasikan kemampuannya karena siswa akan mampu mengingat 90% jika siswa itu mendengar, melihat, dan melakukannya.
5.      Ulangi, yakni tunjukkan kepada para pelajar tentang cara- cara mengulang materi dan menegaskan aku tahu bahwa aku memang tahu ini!. Pengulangan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan konsep multi kecerdasan yang dimiliki oleh setiap siswa.
6.      Rayakan, yakni pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan perolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan. Perayaan adalah ekspresi dari kelompok seseorang yang telah berhasil mengerjakan sesuatu tugas atau kewajiban dengan baik (Deporter, 2004).





C.    Langkah-langkah yang dapat diterapkan dalam pembelajaran melalui konsep quantum learning dengan cara:
1.      Kekuatan Ambak
Ambak adalah motivasi yang  didapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat suatu keputusan. Motivasi sangat diperlukan dalam belajar karena dengan adanya motivasi maka keinginan untuk belajar akan selalu ada. Pada langkah ini siswa akan diberi motivasi oleh guru agar siswa dapat mengidentifikasi dan mengetahui manfaat  atau makna dari setiap pengalaman  atau  peristiwa yang dilaluinya dalam hal ini adalah proses belajar.
2.      Penataan lingkungan belajar
Dalam proses belajar dan mengajar diperlukan penataan lingkungan yang dapat membuat siswa merasa aman dan nyaman, dengan perasaan aman dan nyaman ini akan menumbuhkan konsentrasi belajar siswa yang baik. Dengan penataan lingkungan belajar yang  tepat juga dapat mencegah kebosanan dalam diri siswa.
3.      Memupuk sikap juara
Memupuk sikap juara perlu dilakukan untuk lebih memacu dalam belajar siswa, seorang guru hendaknya jangan segan-segan untuk memberikan pujian atau hadiah pada siswa yang telah berhasil dalam belajarnya, tetapi jangan pula mencemooh siswa yang belum mampu menguasai materi. Dengan memupuk sikap juara ini siswa akan merasa lebih dihargai.
4.      Bebaskan gaya belajarnya
Ada berbagai macam gaya belajar yang dipunyai oleh siswa, gaya belajar tersebut yaitu: visual, auditorial dan kinestetik. Dalam  quantum  learning  guru hendaknya memberikan kebebasan dalam belajar pada siswanya dan janganlah terpaku pada satu gaya belajar saja.

5.      Membiasakan mencatat
Belajar akan benar-benar dipahami sebagai aktivitas kreasi ketika  siswa tidak hanya bisa  menerima, melainkan bisa mengungkapkan kembali apa yang didapatkan menggunakan bahasa hidup dengan cara dan ungkapan sesuai gaya belajar siswa itu sendiri. Hal  tersebut dapat dilakukan dengan memberikan simbol-simbol atau gambar yang mudah dimengerti oleh siswa itu sendiri, simbol-simbol tersebut dapat berupa tulisan.
6.      Membiasakan membaca
Salah satu aktivitas yang cukup  penting adalah membaca. Karena  dengan membaca akan menambah perbendaharaan kata, pemahaman, menambah wawasan dan daya ingat akan bertambah. Seorang guru hendaknya membiasakan siswa untuk membaca, baik buku pelajaran maupun buku-buku yang lain.


7.      Jadikan anak lebih kreatif
Siswa yang kreatif adalah siswa yang ingin tahu, suka mencoba dan senang bermain. Dengan adanya sikap kreatif yang baik siswa akan mampu menghasilkan ide-ide yang segar dalam belajarnya.
8.      Melatih kekuatan memori
Kekuatan memori sangat diperlukan dalam belajar  anak, sehingga siswa perlu dilatih untuk mendapatkan kekuatan memori yang baik (Miftahul, 2010).
D. Petunjuk Pelaksanaan Quantum Teaching
Beberapa petunjuk yang setidaknya mampu untuk dijadikan pedoman bagi seorang guru untuk menerapkan Quantum Teaching dalam ruang kelas. Ada beberapa petunjuk yang bisa untuk dimanfaatkan yaitu:
1.      Guru wajib memberi keteladanan sehingga layak menjadi panutan bagi peserta didik, berbicaralah yang jujur, jadi pendengar yang baik dan selalu gembira ( tersenyum).
2.      Guru harus membuat suasana belajar yang menyenangkan/ kegembiraan. “learning is most effective when it’s fun”.
3.      Lingkungan belajar yang aman, nyaman dan bisa membawa kegembiraan:
·         Pengaturan meja dan kursi diubah dengan berbagai bentuk.
·         Beri tanaman, hiasan lain di luar atau di dalam kelas.
·         Pengecatan warna ruangan, meja dan kursi yang menjadi keinginan dan kebanggaan kelas.
·         Ruangan kelas dihiasi dengan poster yang isinya slogan. Kata mutiara pemacu semangat.
4. Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh pada proses belajarnya. Guru dapat mempengaruhi suasan emosi siswa dengan cara:
·         Kegiatan- kegiatan pelepas stress.
·         Aktivitas- aktivitas yang menambah kekompakan.
·         Menyediakan forum bagi emosi untuk dikenali dan diungkapkan melalui bimbingan konseling.
5. Memutar musik klasik ketika proses belajar mengajar berlangsung.
6. Sikap guru kepada peserta didik:
·         Pengarahan “ apa manfaat materi pelajaran ini bagi peserta didik” dan tujuan.
·         Perlakukan peserta didik sebagai manusia sederajat.
·         Selalu menghargai setiap usaha dan merayakan hasil kerja peserta didik.
·         Memberikan stimulus yang mendorong hasil kerja peserta didik.
·         Mendukung peserta didik 100% dan ajak semua anggota kelas untuk saling mendukung.
·         Memberi peluang peserta didik untuk mengamati dan merekam data hasil pengamatan, menjawab pertanyaan dan mempertanyakan jawaban, menjelaskan sambil memberikan argumentasi, dan sejumlah penalaran (Nana Sudjana, 1994).

7. Terapkan delapan kunci keunggulan ke dalam rencana pelajaran setiap hari.
·         Integritas: bersikaplah jujur, tulus, dan menyeluruh.
·         Kegagalan awal kesuksesan: pahamilah bahwa kegagalan hanyalah memberikan informasi yang anda butuhkan untuk sukses.
·         Bicaralah dengan niat baik: berbicaralah dengan pengertian positif, dan bertanggung jawablah untuk berkomunikasi yang jujur dan tulus.
·         Hidup di saat ini: pusatkan perhatian pada saat ini dan kerjakan dengan sebaik- baiknya.
·         Komitmen: penuhi janji dan kewajiban, laksakan visi dan lakukan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.
·         Tanggung jawab: bertanggungjawab atas tindakan anda.
·         Sikap luwes dan fleksibel : bersikaplah terbuka terhadap perubahan atau pendekatan baru yang dapat membantu anda memperoleh hasil yang diinginkan.
·         Keseimbangan: jaga keselarasan pikiran, tubuh, dan jiwa anda. Sisihkan waktu untuk membangun memelihara tiga bidang ini.

8. Guru yang seorang Quantum Teacher mempunyai ciri- ciri dalam berkomunikasi yaitu:
·         Antusias menampilkan semangat hidup.
·         Berwibawa: menggerakan orang.
·         Positif: melihat peluang dalam setiap saat.
·         Supel: mudah menjalin hubungan dengan peserta didik.
·         Humoris: berhati lapang untuk menerima kesalahan.
·         Luwes: menemukan lebih dari satu untuk mencapai hasil
·         Menerima : mencari dibalik tindakan dan penampilan luar untuk menemukan nilai- nilai inti.
·         Fasih: berkomunikasi dengan jelas, ringkas, dan jujur.
·         Tulus: memiliki niat dan motivasi positif.
·         Spontan: dapat mengikuti irama dan tetap menjaga hasil
·         Menarik dan tertarik
·         Menganggap peserta didik “mampu”: percaya akan keberhasilan peserta didik.
·         Menetapkan dan memelihara harapan tinggi.
9. Semua peserta didik diusahakan untuk memiliki modul/ buku sumber belajar.
10. Dalam melakukan penilaian guru harus berorientasi pada beberapa hal diantaranya adalah:
·         Acuan/ patokan. Semua kompetensi perlu dinilai sesuai dengan acuan criteria berdasarkan indicator hasil belajar.
·         Ketuntasan belajar.
·         Metode penilaian dengan menggunakan variasi, antara lain:
– Tes tertulis.
– Observasi
– Portofolio
– Demonstrasi
E. Faktor-faktor yang mendukung KBM Quantum teaching learning
Selain suasana dan kegiatan belajar mengajar, banyak faktor lain yang ditawarkan dalam Quantum Teaching yang dapat mendukung suksesnya belajar mengajar, diantaranya adalah:
1.      Sifat-Sifat Guru
Sifat-sifat yang hendaknya dimiliki seorang guru adalah antusias, berwibawa, positif, supel, humoris, luwes, menerima, fasih, tulus, spontan, menarik dan tertarik, menganggap siswa mampu, menetapkan dan memelihara tanggapan tinggi. Dalam berinteraksi dengan siswa guru lebih banyak senyum dengan kelompok berkemampuan tinggi dan banyak ngobrol dengan akrab, gaya berbicara lebih intelektual, penuh humor, menggunakan kosakata kompleks dan bertindak lebih matang. Sedangkan dengan kelompok kemampuan rendah, guru-guru yang sama cenderung berbicara lebih keras dan lambat, menggunakan kosakata dasar dan kalimat mentah, jarang senyum dan berinteraksi pada tingkat lebih instruksional dan otoriter. Sehingga dapat dikatakan guru-guru memperlakukan siswa sesuai dengan bunyi cap mereka, sebagai pelaku akademis tinggi atau rendah.
2.      Komunikasi
Ada empat prinsip yang perlu diingat ketika berkomunikasi dengan siswa ketika kegiatan belajar berlangsung dan memberi petunjuk ataupun memberikan umpan balik, yaitu munculkan kesan, arahkan fokus, inklusif (bersifat mengajak), dan spesifik (tepat sasaran). Selain itu perlu diperhatikan pula komunikasi secara nonverbal seperti kontak mata, ekspresi wajah, gerak tubuh dan nada suara.
3.      Memanfaatkan Peta Pikiran
Quantum Teaching memanfaatkan teknik mencatat yang efektif yang dinamakan peta pikiran. Peta pikiran adalah teknik mencatat yang didasarkan pada riset tentang bagaimana cara kerja otak dengan menggunakan citra visual dan perangkat grafis lainnya. Peta pikiran bermanfaat karena fleksibel, memusatkan perhatian, meningkatkan pemahaman dan menyenangkan.




Referensi

BAHAN DISKUSI
1.       Bagaimana efektifitas model quantum dalam pembelajaran di sekolah menengah ?
2.  Bagaimana pengembangan kecakapan abad 21 dalam pembelajaran model Quantum?
3.       Adakah kendala yang mungkin dihadapi guru jika mengguunakan model ini?

Komentar

  1. baiklah saya akan menanggapi pertanyaan no 3.
    kendala yang dihadapi seorang guru jika menggunakan model ini yaitu membutuhkan pengalaman yang nyata, karena quantum learning menuntut guru untuk kreatif dan menjadikan kegiatan belajar mengajar lebuh menyenangkan sehingga diperlukan pengamatan yang matang untuk dapat menciptakan situasi yang diatas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas masukannya
      jika kita ingin menerapkan model ini namun belum benar-benar memahami
      bolehkan pembelajaran dilakukan dengan team teaching

      Hapus
  2. saya akan menanggapi pertanyaan no 3 tentang kendala yang dihadapi guru dalam menggunakan model tersebut yaitu a) memerlukan persiapan yang matang bagi guru dan lingkungan yang mendukung, b) memerlukan fasilitas yang memadai, c) model ini banyak dilakukan di luar negeri sehingga kurang beradaptasi dengan kehidupan di Indonesia, dan d) kurang dapat mengontrol siswa

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas komentarnya
      jika kita melihat banyaknya hal yang diperlukan dalam menerapkan model ini, dapatkah model ini diterapkan di daerah 3T?

      Hapus
  3. Menanggapi soal nomorr 3 kendala guru dalam penerapan ini fasilitas yang kurang memadai.dan model ini do gunakan di mancanegara sehingga aulit untuk di terapkan di indonesia. Guru yang kurang menguasai bahan ajar dan keadaan siswa

    BalasHapus
  4. Artikel yang sangat menarik. Saya akan menanggapi pertanyaan no 3. kendala yang mungkin dihadapi guru jika menggunakan model ini.fasilitas disekolah serta kebanyakan siswa dalam satu kelas. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas komentarnya
      saat ini pada dapodik jika siswa dalam satu kelas lebih dari 32 maka kelas terbaca tidak normal.
      apakah jumlah 32 masih terlalu banyak sehingga menjadi kendala dalam pembelajaran?

      Hapus
  5. Saya menanggapi permasalahan yang kedua, model ini sangat mendukung utk abad 21 jadi tinggal bagaimana kita memvariasikan dan menginovasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas komentarnya
      pada saat kita menginovasi suatu model pembelajaran apakah kita perlu memfalidasi sintaks inovasi dengan guru yang lebih berpengalaman?

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer